Sudah Adakah Tahsin Di Zaman Rasul ?

Related image
Foto: ilustrasi | Sumber: m.inilah.com

Hai sahabat NATA! Sebelumnya kita sudah membahas mengenai alasan kenapa harus belajar tahsin. Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai tahsin pada zaman Rasul. Sudah adakah tahsin pada zaman tersebut? Yuk simak selengkapnya!

Tidak diragukan lagi bahwa tahsin telah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wasallam. Bahkan Nabi shallallahu ‘alahi wasallam sendiri pada setiap malam bulan Ramadhan senantiasa ber-talaqqi Al-Quran kepada Jibril ‘alaihis salam. ini sebagaimana diriwayatkan oleh lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

“Adalah Jibril ‘alaihis salam senantiasa menemui Nabi shallallahu ‘alahi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan, maka beliau pan mempelajari (bacaan) Al-Quran kepadanya (Jibril ).”

Dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa Jibril senantiasa menemui Nabi shallallahu ‘alahi wasallam pada setiap malam di bulan Ramadhan, lalu beliau pun mempelajari (bacaan) AlQuran kepadanya (Jibril). Secara tersirat bahwa yang dimaksud dari redaksi hadits: ”Maka beliau pun mempelajari (bacaan) Al-Quran kepadanya (Jibril)” ialah tahsin tilawah AlQuran, hanya saja dalam hadits tersebut tidak menggunakan istilah ”tahsin”, tetapi menggunakan kata mudarasah (mempelajari). Namun jika dilihat dari subtansinya maka keduanya sama, tidak ada perbedaan sama sekali dari keduanya.

Munculnya Tujuh Orang dari Kalangan Sahabat yang Ahli dalam Bidang Al-Quran.

Related image
dakwatuna.com

Kejadian tersebut berulang pada setiap tahun. Bahkan ketika pada saat tahun menjelang wafatnya Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, Jibril ‘alaihis salam senantiasa menemui beliau dua kali. Sebagaimana diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda :

“Setiap tahun Jibril membacakan (mengajarkan) Al-Quran kepadaku. (Namun) sungguh pada tahun ini Jibril membacakan Al-Quran kepadaku dua kali, sehingga aku beranggapan bahwa ajalku telah dekat.”

Kemudian para sahabat pun bertalaqqi kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam sebagaimana beliau bertalaqqi kepada Jibril pada setiap malam di bulan Ramadhan. Setelah mereka bertalaqqi kepada Nabi shallallahu ‘alahi wasallam, maka munculah tujuh orang dari kalangan sahabat yang ahli dalam bidang Al-Quran.

Kemudian mereka dijuluki sebagai ahli qira’at, tentunya mereka dalam hal ini telah menguasai tahsin tilawah Al-Quran. Tujuh sahabat tersebut ialah : Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Zaid bin Tsabit bin Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu.

lmam Adz-Dzahabi rahimahullah menegaskan setelah beliau menyebutkan tujuh sahabat yang ahli dalam bidang Al-Quran,

“Mereka itulah yang telah sampai kepada kita riwayatnya bahwa mereka telah menghafal Al-Quran (secara sempurna) di masa hidup Nabi shallallahu ‘alahi wasallam. Lalu para sahabat yang lain pun bertalaqqi kepada mereka, sehingga sanad qira’ah imam yang sepuluh berujung pada mereka (tujuh sahabat yang telah disebutkan di atas).”

Kemudian dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wasallam telah mengisyaratkan agar para sahabat mempelajari (bacaan) Al-Quran kepada empat orang, beliau shallallahu ‘alahi wasallam bersabda : “Hendaklah kalian mendalami Al-Quran dari empat orang, yaitu; Abdullah bin Mas’ud, Salim (budak Abu Hudzaifah), Mu’adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab.”

Dan, dalam hadits yang shahih Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda ;

“Barangsiapa yang suka membaca Al-Quran dengan bacaan yang indah sebagaimana ia diturunkan, hendaklah ia mempelajari (bacaan) Al-Quran kepada lbnu Ummi Abd (Ibnu Mas’ud).”

Pembelajaran Tahsin Telah Ada di Zaman Rasul dengan Istilah Berbeda

Alasan Mushaf Quran Zaman Rasul Ditulis di Atas Pelepah Kurma
www.dream.co.id

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pembelajaran tahsin telah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wasallam dan setelahnya, hanya saja ketika itu istilahnya berbeda. Kalau di zaman Nabi shallallahu ‘alahi wasallam dan setelahnya dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in menggunakan istilah qira’ah, atau talaqqi, atau musyafahah, atau yang semisalnya, sedangkan pada zaman sekarang menggunakan istilah tahsin.

Ini sebagaimana halnya ilmu tajwid, nahwu, sharaf, ushul fiqh dan yang lainnya dari berbagai disiplin ilmu agama yang tidak pernah dikenal istilah-istilah tersebut pada zaman Nabi shallallahu ‘alahi wasallam. Lalu pada zaman belakangan muncullah istilahistilah tersebut. Hal itu semata-mata untuk mempermudah kaum muslimin dalam mempelajarinya. Oleh karena itu tidak perlu memperdebatkan istilah-istilah tersebut. Wallahu a’lam.

Nah itu dia artikel mengenai tahsin Al-Quran. Apa kamu tertarik untuk mempelajari lebih dalam? Kalian juga bisa belajar secara langsung kepada Ustad atau Muslim Muslimah yang sudah bisa dan lancar dalam membaca Al Qur’an, agar kalian cepat dan lancar dalam membaca Ayat Ayat Al Qur’an.

Kamu juga bisa memanggil guru privat mengaji ke rumah. Kami NATA Private menyediakan jasa guru les privat mengaji untuk anak-anak, remaja ataupun dewasa. Berminat? Langsung aja hubungi Admin 081214140044

Les privat tahsin Alquran BandungLes privat tahsin Alquran SukajadiLes privat tahsin Alquran Antapani, Les privat tahsin Alquran Geger KalongLes privat tahsin Alquran Sukajadi,
Les privat tahsin Alquran Buah Batu

Sumber: komoditi.id



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
Powered by