Prinsip Utama dalam Belajar Bahasa Asing | PRINSIP 1

Hai Sahabat NATA! Pernah gak sih, kamu belajar bahasa asing? Entah itu bahasa Jepang, bahasa Korea, bahasa Mandarin, atau bahasa Jerman? Pada kesempatan kali ini kami mau berbagi tips dengan kamu semua yang sedang mempelajari bahasa asing. Semoga aja tips dari kami bermanfaat agar usaha belajar kalian bisa betul-betul efektif dan tepat sasaran.

Related image
Sumber: Couchsurfing

Motivasi belajar yang benar

Mengapa kamu memutuskan belajar bahasa asing? Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan tentang  motivasi ini kesannya sepele padahal sangat signifikan pada proses belajar bahasa asing yang akan kamu jalani.

Jika sejak awal motivasi belajar kamu tidak didasarkan pada hal yang tepat, itulah yang menyebabkan banyak pembelajar berhenti di tengah jalan. Namun, jika dasar motivasi belajar kamu tepat, kamu akan jauh lebih konsisten terhadap komitmen belajarmu.

Nah, berdasarkan pengalaman, kami mengkategorikan golongan-golongan motivasi pembelajar ke sebuah kuadran. Ada 4 karakteristik dalam kuadran tersebut, yaitu ideologis, praktikal, integratif, dan instrumental.

Prinsip Utama Dalam Belajar Bahasa Asing | Sumber: zenius.net

Kuadran I: Praktikal-Instrumental

Pada kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing biasanya berasal dari faktor eksternal berupa tuntutan, perintah, paksaan, atau keharusan. Misalnya karena tinggal di luar negeri, maka harus belajar bahasa negara tersebut untuk bisa bertahan hidup. Bisa juga motif belajarnya karena perintah atau paksaan dari figur otoritas, misalnya orang tua atau dari guru. Tidak jarang orang tua atau guru yang ikut andil dalam menentukan arah belajar bahasa asing seorang pembelajar.

“Pokoknya kamu harus bisa bahasa Mandarin ya. Biar nanti gampang nyari kerja & mudah mencari relasi bisnis” – orang tua / guru

Terlepas bahwa menguasai bahasa itu penting secara praktikal, tapi biasanya motivasi yang didasari oleh keterpaksaan atau perintah dari orang lain, tidak akan membuat seorang pembelajar berkomitmen dalam jangka panjang. Hayo, ada yang berhenti belajar bahasa di tengah jalan karena sumber motivasinya disuruh orang lain?

Related image
Sumber: express.co.uk

Mereka yang dasar motivasi belajarnya karena perintah orang lain, tidak hanya akan bermasalah dalam komitmen dan konsistensi, tapi juga proses belajar mereka cenderung acak-acakan. Kalo dari awal motivasinya udah lemah, cara belajarnya lemah, ya wajar saja banyak yang tidak berkembang dan jadi berhenti di tengah jalan. 

Kuadran II: Praktikal-Integratif

Related image
Sumber: sciencedaily.com

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing hanya didasarkan pada fungsi kepraktisan kasual dalam memahami bahasa tersebut. Biasanya mereka yang berada di kuadran ini belajar bahasa asing, karena dorongan motivasi hobi kasualnya, misalnya hanya supaya bisa mengerti percakapan dalam bahasa asing, bisa baca komik, main video games, nonton drama/film, atau sekadar paham lirik-lirik lagu dari bahasa tersebut.

Biasanya mereka yang belajar atas dasar motivasi ini, penguasaan materinya juga cukup acak, bahkan bisa juga hanya bertumpu pada satu karakteristik yang itu-itu saja, karena biasanya referensi pembelajarannya banyak meniru dari sumber yang terbatas seperti drama/film/animasi, game, dll.

Kuadran III: Ideologis-Instrumental

Image result for cita cita
Sumber: bimbelkhalifah

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing didasari pada rasa kesukaan terhadap bahasa tersebut. Biasanya dorongan belajarnya didasari oleh motivasi positif, bahwa dirinya memang menyukai bahasa tersebut, merasa pengucapan bahasa tersebut terdengar indah, melihat karakter bahasa tersebut keren, atau penguasaan bahasa tersebut mendukung cita-citanya. Pada tahap ini, biasanya pembelajar memerhatikan aspek fungsional yang tepat dan didorong oleh motivasi positif.

Kuadran IV: Ideologis-Integratif

Image result for culture
Sumber: Punta Sayulita México

Di kuadran ini, motivasi seseorang dalam belajar bahasa asing didasari pada rasa kecintaan yang mendalam terhadap bahasa tersebut, dinamika budaya, aspek sosial, maupun historis dari penutur bahasa asing tersebut. Motivasi yang didasarkan pada kuadran ini, tidak lagi hanya sekadar mempelajari aspek fungsional sebuah bahasa saja, tetapi juga merasa tertarik untuk mengkaji aspek linguistik, historis, perubahan sosial, dan nilai-nilai kebudayaan yang berkaitan dengan bahasa tersebut.

Contohnya mereka yang mempelajari bahasa Mandarin atas dasar motivasi kuadrain IV ini, mereka bukan lagi belajar bahasa Mandarin karena disuruh orang tua atau supaya bisa nonton film drama mandarin. Mereka betul-betul mencintai bahasa Mandarin sampai ke akar-akarnya. Mereka menyukai pelafalan dalam bahasa Mandarin, mereka menyukai karakter bahasa Mandarin, mereka merasa penasaran dengan evolusi akar bahasa Mandarin. Mereka menyukai sejarah dan budaya Tiongkok sebagai penutur bahasa Mandarin. Mereka bahkan merasa tertantang untuk memahami perbedaan akar bahasa yang serumpun, atau dialek kedaerahan yang masih berkaitan dengan bahasa Mandarin.

Menurut pengalaman gua, para pembelajar yang motivasinya didasari pada kuadran ini biasanya lebih cepat dalam belajar, cenderung lebih berkomitmen, dan juga konsisten dalam mendalami bahasa asing.

Jadi, kuadran motivasi mana yang harus dilakukan?

Idealnya seorang pembelajar baru akan bisa betul-betul berkomitmen menguasai bahasa asing dengan baik jika dasar motivasinya ada pada kuadran III atau IV.

Nah itu dia tahap motivasi dalam berbahasa asing. Jadi sudah di tahap manakah motivasi kamu? Apakah kamu tertarik untuk meningkatkan tahap kemahiran berbahasa mu? Kami NATA Private siap membantu kamu mengasah kemampuan bahasa asingmu dengan menyediakan jasa guru privat bahasa asing dan jasa translator bahasa asing terbaik untuk kamu.  Berminat? Langsung aja hubungi admin 081214140044.

Sumber: zenius.neti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
Powered by