Prinsip Utama dalam Belajar Bahasa Asing | Kemahiran Berbahasa

Hai Sahabat NATA! Pernah gak sih, kamu belajar bahasa asing? Entah itu bahasa Jepang, bahasa Korea, bahasa Mandarin, atau bahasa Jerman? Hayo, udah sampe mana penguasaannya?

Berdasarkan pengalaman , gak sedikit pembelajar yang semangat belajarnya gak bertahan lama, mungkin ada juga yang sampe putus asa, bahkan berhenti total di tengah jalan. Mungkin ada juga yang merasa secara teori udah bagus, tapi dalam praktik ngomong dengan native–speaker masih kesulitam, gugup, dan terbata-bata.

Kenapa bisa begitu, ya? Kayaknya ada sebagian orang yang bisa terus konsisten belajar, tapi kenapa aku kok susah banget, sih?

Les udah, beli buku-buku belajar bahasa asing udah, download mobile apps di sebagai penunjang belajar juga udah, tapi kenapa kok ujung-ujungnya mandek, ya? Oleh karena itulah, pada kesempatan kali ini kami mau berbagi tips dengan kamu semua yang sedang mempelajari bahasa asing. Semoga aja tips dari kami bermanfaat agar usaha belajar kalian bisa betul-betul efektif dan tepat sasaran.

Related image
Kemahiran berbahasa | Sumber: BBC

Oke, sebelum lanjut pada 4 prinsip utama yang akan dibahas, ada baiknya kita tahu dulu standar “menguasai” dalam belajar bahasa asing itu seperti apa. Apakah yang dimaksud “menguasai” itu sekadar mengerti pembicaraan, bisa lancar baca-tulis, sudah bisa cas-cis-cus a la native speaker, atau sampai jadi seorang ahli bahasa (linguist) dan polyglot seperti RMP Sosrokartono?

Jadi sebelum kita menyatakan diri kita “menguasai” bahasa asing, kita harus tahu dulu maksudnya “menguasai” itu sudah sampai pada level mana? Karena ada-ada saja orang yang bilang “sudah menguasai” tapi sebetulnya dalam skala Language Proficiency itu dia belum sampai memenuhi tahap yang layak untuk bisa dikatakan “menguasai”.

Nah terus skala yang benar dalam menentukan kemahiran berbahasa itu apa saja tahapnya?  Language Proficiency, atau Kemahiran Berbahasa, dapat diukur dengan menggunakan beberapa standar, tapi kali ini kami akan bahas satu aja, yaitu CEFR (Common European Framework of Reference). CEFR adalah sebuah indikator untuk mengukur tingkat pencapaian kemahiran sebuah bahasa, yang disusun oleh Dewan Eropa (Council of Europe).

 Language Proficiency, 

Kalo kamu pernah liat label A1, A2, B1, dll. Pada sampul atau punggung buku bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, itulah yang disebut dengan CEFR. Secara umum, CEFR dibagi menjadi 6 level, dengan rincian sebagai berikut:

A1 (Beginner)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami frasa simple harian.
  • Memperkenalkan diri.
  • Menjawab pertanyaan tentang profil diri sendiri dan kehidupan sehari-hari.

A2 (Elementary)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami kalimat-kalimat yang lebih dalam mengenai kehidupan sehari-hari
  • Berbelanja atau bertransaksi
  • Menjelaskan kondisi geografis lokal.
  • Bertukar informasi dalam lingkup rutinitas.

B1 (Intermediate)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami permasalahan harian di lingkungan sekitar seperti sekolah, pekerjaan, hobi, dll.
  • Membuat tulisan terpadu mengenai minat pribadi.
  • Menceritakan pengalaman personal beserta detilnya.

B2 (Upper Intermediate)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami ide pokok yang kompleks dalam sebuah tulisan, baik mengenai topik abstrak maupun konkret
  • Berinteraksi secara spontan dengan penutur asli bahasa (native speaker) yang dipelajarinya.
  • Menulis teks yang detil mengenai bermacam-macam topik, serta menyampaikan opini dan sudut pandangnya terhadap topik-topik tersebut.

C1 (Advanced)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami ide-ide yang lebih kompleks.
  • Mengekspresikan diri secara spontan dan lancar.
  • Berbahasa secara fleksibel dalam lingkungan akademik, sosial, serta professional.
  • Menulis teks yang terstruktur dengan baik mengenai topik yang kompleks, dengan menggunakan komponen gramatikal yang efektif dan efisien.

C2 (Master)

Di tingkatan ini, pembelajar dinilai mampu untuk:

  • Memahami dengan mudah segala informasi yang didengar atau dibaca.
  • Menyimpulkan informasi dari berbagai sumber, dan merekonstruksikannya secara koheren.
  • Mampu menyampaikan argumen dengan baik.
  • Mampu mempresentasikan opini maupun fakta.
  • Mengekspresikan diri secara lancar dan tepat dalam situasi kompleks.

Gitu deh, kira-kira, gambaran mengenai CEFR. Jadi, kalo lo mau atau sedang belajar bahasa asing, kamu bisa tahu level kemahiranmu sudah mencapai yang mana dalam CEFR. Jadi kalo ada di antara kamu yang merasa secara teori grammar sudah baik, tapi masih kesulitan berbicara secara spontan dengan native speaker, kemungkinan kamu lagi stuck dalam tahap B1 menuju B2.

Meski CEFR ini awalnya diciptakan oleh orang Eropa, standarnya sudah cukup meluas dan digunakan oleh banyak institusi bahasa di seluruh dunia, bahkan skor dalam TOEFL, IELTS, JLPT (Bahasa Jepang), HSK (Bahasa Mandarin) juga dapat dikonversi ke CEFR.

Nah itu dia pengertian “menguasai” bahasa asing. Jadi sudah di tahap manakah kemahiran bahasa kamu? Apakah kamu tertarik untuk meningkatkan tahap kemahiran berbahasa mu? Kami NATA Private siap membantu kamu mengasah kemampuan bahasa asingmu dengan menyediakan jasa guru privat bahasa asing dan jasa translator bahasa asing terbaik untuk kamu.  Berminat? Langsung aja hubungi admin 081214140044.

Sumber: zenius.neti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1
Halo kak, ada yang bisa kami bantu?
Powered by